KPAI Meminta KUA untuk Aktif Cegah Pernikahan Anak

KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) mengatakan pencegahan perkawinan anak tak hanya diperlukan pemahaman dari orang tua si anak saja. Mereka juga menyatakan KUA (Kantor Urusan Agama) juga ikut berperan aktif dalam hal itu supaya hal tersebut tak terulang lagi.

Makin Marak Perkawinan Anak

“KPAI mengapresiasi KUA yang mana menolak, sebagai upaya pencegahan perkawinan usia anak. Akan tetapi perspektif perlindungan anak untuk hakim-hakim agama juga sangat penting diperlukan tentang kepentingan terbaik anak,” ungkap Ketua KPAI Susanto tepatnya di kantor KPAI, Senin (28/5) dilansir dari CNN Indonesia.

Seperti yang dilakukan oleh KUA Sinjai, Sulawawesi Selatan, yang mana menolak perkawinan anak umur kira-kira rentang 12 tahun sampai 15 tahun, dengan pria berumur kira-kira rentang 21 tahun pada awal bulan Mei kemarin. KPAI juga mengimbau pada pihak pemerintah daerah, sekolah dan juga masyarakat memberi pemahaman kepada orang tua sehingga perkawinan anak tak terjadi lagi.

Susanto menambahkan, evaluasi pada pengasuhan anak mesti menjadi prioritas. Peran para orang tua memberikan pengasuhan terbaiknya, memenuhi kebutuhan anak yang tak hanya fisik namun juga psikologis. “Orang tua juga perlu memastikan pendidikan anak akan tetap berlangsung dan jaminan pendampingan kesehatan menjadi prioritas para orang tua,” ungkap Susanto.

Bagi KPAI sendiri, usia perkawinan yang ideal adalah minimal usia 21 tahun sesuai dengan Undang-Undang Perkawinan No. 1 Tahun 1974. Dampak dari perkawinan anak sendiri, menurut Susanto, adalah sangat luar biasa seperti misalnya putusnya pendidikan, aspek kesehatan reproduksi untuk anak, kemiskinan, dan juga aspek sumber daya manusia.

“Pemberitaan kasus kawin sendiri mewarnai pemberitaan dan ini juga menjadi perhatian khusus bagi kita semua,” ungkapnya.

Selama tahun 2017 sampai sekarang pemberitaan soal perkawinan anak makin marak. Remaja laki-laki yang usianya 16 tahun menikah dengan seorang nenek yang ada di Sumatera Selatan, dan ada seorang kakek berusia sangat tua menikahi seorang anak gadis 17 tahun di Kolaka, Sulawesi Tenggara dan di Batang, Jawa Tengah. Ada juga remaja 12 tahun dengan pria umurnya 21 tahun di Sinjai, Sulsel yang viral di media sosial.

Dua Remaja Sulsel Kebelet Nikah

Baru-baru ini KPAI menanggapi 2 remaja SMP yang ada di Bantaeng, Sulawesi Selatan, yang sudah kebelet nikah. KPAI sendiri berharap ada pencegahan pernikahan usia dini yang mana dilakukan secara konsisten juga. “Pencegahan perkawinan dini harus konsisten. Apabila longgar tentu saja  rentan dimanfaatkan pihak-pihak agen togel hongkong tertentu supaya bisa menikah dini. Ini tak baik bagi masa depan generasi,” ungkap Susanto juga beberapa waktu yang lalu.

Ia mengaku bahwa pihaknya akan melakukan koordinasi dengan pihak terkait kasus 2 remaja yang kebelet nikah di Sulsel itu pada waktu itu. KPAI juga menyatakan bahwa mereka selalu mengimbau anak untuk tak menikah di usia dini. “Kami koordinasikan dulu dengan stakeholders yang mana ada di sana. Prinsipnya kita mengimbau supaya tak ada anak yang menikah di usia dini,” ungkapnya lagi.